Niat Tulus Di Bulan Ramadhan

Niat Tulus Di Bulan Ramadhan

Hari ini kita telah memasuki bulan puasa. Kita niatkan puasa kita untuk ibadah dan kita bersihkan badan serta hati kita. Banyak saudara kita yang saat ini hidup susah karena tidak dapat bekerja atau berdagang. Padahal mereka hanya mendapat uang setiap hari dengan menguras tenaga atau berdagang kecil-kecilan.

Untunglah sebagian anggota masyarakat masih bersedia berbagi, bersedekah atau atau membagikan sembako. Kebersamaan kita semua merupakan modal besar untuk menjaga persatuan dalam menegakkan negara kesatuan kita.

Momentum Penting

Bulan Ramadhan di era Covid ini juga merupakan momentum yang penting untuk mengembalikan uang rakyat. Disengaja atau tidak, sukarela atau terpaksa sebagian kita telah mengambil uang rakyat baik untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.

Prof. Sumitro pernah memperkirakan sekitar 30% anggaran belanja negara bocor, artinya uang rakyat tak sampai ke rakyat tapi menyangkut di saku perorangan atau kelompok. Jika rata-rata anggrana yang bocor tersebut sekitar 500 triliun pertahun maka jika kita hitung dari tahun 2000 saja sudah berjumlah 20 kali 500 triliun sama dengan 10 ribu triliun. Lebih dari cukup untuk memberi makan saudara kita yang memerlukan bahkan juga membayar hutang-hutang pemerintah.

Siapakah yang mengambil uang rakyat tersebut sehingga mereka harus mengembalikan. Bisa saja saya, anda atau orang lain. Cobalah ingat apakah kita pernah membayar pajak kurang dari seharusnya? Pernahkah kita menerima uang dinas lebih besar dari seharusnya? Atau pernah kita menaikkan harga barang dan jasa dalam pengadaan barang pemerintah dan mengambil keuntungan pribadi dari situ?

Sudah tentu yang paling jelas adalah mereka yang menerima sogokan atau mengambil uang pemerintah atau masyarakat melalui cara-cara yang tak diatur oleh undang-undang untuk kepentingan pribadi.

Kekayaan tak menjamin

Menurut ajaran agama kita harus mengembalikan uang tersebut ke negara serta meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Memang berat, namun jika kesadaran baru yang sekarang timbul di era Covid yaitu bahwa kekayaan kita tak akan menjamin kita tak akan tertular Covid-19. Kekayaan sekarang tak dapat dinikmati, maka seharusnya keinginan untuk mengembalikan uang rakyat tersebut akan semakin kuat.

Jika semua merasa sadar dan ingin membersihkan hartanya di bulan Ramadhan, di era Covid-19 ini maka inilah saatnya yang tepat untuk mengembalikannya.

Saatnya Berubah

Mari kita berubah dari pengambil uang rakyat menjadi penyelamat masyarakat. Mari kita berubah dari pengumpul harta yang kurang selektif menjadi orang yang hati-hati membedakan harta milik sendiri dan bukan.
Kesadaran masyarakat untuk berubah tersebut akan berdampak tidak hanya pada segi keuangan negara namun juga pada kebersamaan kita.

Kesadaran baru selama dan sudah Covid tak akan ada korupsi di negara kita. Indonesia akan menjadi Indonesia baru yang bersatu, Indonesia yang maju, sejahtera dan kuat.

Oleh : Samsuridjal Djauzi

Tinggalkan Balasan