You are currently viewing Tidak Takut Menjadi Miskin: Warisan Prof. Kahar Tjandra tentang Empati dan Keteguhan

Tidak Takut Menjadi Miskin: Warisan Prof. Kahar Tjandra tentang Empati dan Keteguhan

Kemiskinan Bukan Akhir, Melainkan Awal Sebuah Perjalanan

Kemiskinan adalah guru yang keras. Ia mengajarkan banyak hal dengan cara yang tidak menyenangkan. Bagi sebagian orang, pengalaman hidup serba kekurangan meninggalkan trauma yang membuat mereka terus mengejar dan menimbun kekayaan. Mereka hidup dalam ketakutan bahwa suatu hari nanti kemiskinan akan kembali datang.

Namun, ada pula orang-orang yang memilih jalan berbeda. Luka masa lalu justru melahirkan empati yang mendalam. Karena pernah merasakan sulitnya hidup, mereka memahami penderitaan orang lain dan menjadikan keberhasilan sebagai sarana untuk membantu sesama.

Prof. Dr. Kahar Tjandra adalah salah satu contoh terbaik dari kelompok kedua. Kisah hidupnya membuktikan bahwa kemiskinan tidak harus melahirkan rasa takut. Sebaliknya, kemiskinan dapat menjadi sumber kekuatan, kepedulian, dan pengabdian yang luar biasa.

Tumbuh dari Kesederhanaan, Berjuang Melalui Pendidikan

Masa kecil Kahar Tjandra dihabiskan dalam kehidupan keluarga petani yang sederhana. Kondisi ekonomi membuatnya harus terlambat mengenyam pendidikan dibandingkan teman-teman seusianya. Bagi banyak anak, keadaan seperti ini bisa menjadi alasan untuk menyerah. Namun, tidak bagi dirinya.

Justru dari sawah dan jalan setapak menuju sekolah, ia belajar bahwa kerja keras tidak mengenal waktu, sementara pendidikan adalah jalan paling mulia untuk mengubah masa depan.

Semangat belajar itu membawanya diterima di fakultas kedokteran. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter, ia memilih mengabdikan diri sebagai dokter militer. Pilihan tersebut membentuk karakter disiplin, tangguh, dan siap menghadapi berbagai situasi sulit.

Perjalanannya tidak berhenti di sana. Ia terus belajar hingga menjadi dokter spesialis patologi klinik, bidang yang sering bekerja di balik layar tetapi memiliki peran sangat menentukan dalam dunia medis. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, lahirlah berbagai keputusan penting mengenai diagnosis kanker, infeksi, kelainan darah, hingga penyakit-penyakit serius lainnya.

Ia memilih bidang yang sunyi, tetapi dampaknya sangat besar bagi keselamatan banyak orang.


Ketika Seorang Dokter Memilih Naik Becak

Ada satu kisah yang membuat nama Prof. Kahar begitu dikenang masyarakat.

Setelah membuka praktik di sekitar Pasar Palmerah, Jakarta, ia melayani pasien dari berbagai kalangan, terutama masyarakat kecil. Ia melihat sendiri bagaimana banyak orang menunda berobat karena biaya, keterbatasan waktu, atau sulitnya akses layanan kesehatan.

Usai praktik, ketika banyak dokter memilih beristirahat, ia justru menaiki becak untuk mengunjungi pasien-pasien yang tidak mampu datang ke klinik. Hingga larut malam, ia menyusuri gang-gang sempit demi memastikan pasien memperoleh pemeriksaan yang layak.

Pada era 1970-an hingga 1980-an, pemandangan seorang dokter spesialis yang rela berhujan-hujan naik becak bukanlah hal yang biasa. Dari situlah lahir julukan yang melekat sepanjang hidupnya: “Dokter Becak.”

Julukan itu bukan sekadar cerita unik. Ia menjadi simbol sebuah prinsip hidup.

Prof. Kahar memahami betul bagaimana rasanya menjadi orang kecil yang kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan. Karena pernah mengalami hidup serba kekurangan, ia tidak pernah merasa rendah ketika harus mendatangi pasien satu per satu.

Baginya, ilmu kedokteran tidak boleh berhenti di ruang praktik. Ilmu harus hadir di tempat orang-orang paling membutuhkannya.


Bisnis Sebagai Jalan Memperluas Manfaat

Kesuksesan tidak membuat Prof. Kahar menjauh dari nilai-nilai yang ia pegang sejak kecil. Ia tidak memandang bisnis sebagai alat untuk mengumpulkan kekayaan semata, melainkan sebagai kendaraan untuk memperbesar manfaat.

Salah satu peluang besar yang ia lihat adalah kebutuhan masyarakat terhadap antiseptik berkualitas. Dari sana, ia mengembangkan pemasaran produk Betadine hingga akhirnya membangun perusahaan farmasi yang kemudian dikenal sebagai Mahakam Farma.

Perjalanan bisnisnya terus berkembang. Ia mendirikan Laboratorium Klinik Mahakam, yang menjadi perpanjangan dari keahliannya di bidang patologi klinik. Melalui laboratorium tersebut, masyarakat memperoleh layanan diagnosis yang cepat dan akurat.

Tak berhenti di dunia kesehatan, ia juga membangun Hotel Mahakam, yang kemudian dikenal sebagai salah satu hotel legendaris di Jakarta Selatan dan sering menjadi tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan ilmiah, seminar, hingga pertemuan para tenaga kesehatan.

Jika dilihat sekilas, farmasi, laboratorium, dan hotel tampak berada di dunia yang berbeda. Namun sebenarnya ketiganya saling terhubung.

Farmasi menyediakan obat. Laboratorium menyediakan diagnosis. Hotel menyediakan ruang bertemu, belajar, dan berkolaborasi.

Prof. Kahar tidak sekadar membangun perusahaan. Ia membangun sebuah ekosistem yang mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.


Investasi Terbesar Bernama Manusia

Barangkali warisan terbesar Prof. Kahar bukanlah perusahaan yang ia bangun.

Warisan terbesarnya adalah manusia.

Ia menyantuni ratusan mahasiswa, termasuk banyak calon dokter dan dokter spesialis yang berasal dari keluarga kurang mampu. Bantuan yang diberikan bukan sekadar biaya pendidikan. Ia juga membimbing mereka agar menjadi pribadi yang jujur, rendah hati, disiplin, dan memiliki empati tinggi.

Mengapa ia begitu fokus membantu mahasiswa kedokteran?

Karena ia tahu persis betapa mahalnya biaya pendidikan dokter. Banyak anak-anak cerdas terpaksa menghentikan cita-cita bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena keterbatasan ekonomi.

Baginya, membantu satu calon dokter berarti membantu ribuan pasien di masa depan. Inilah bentuk investasi yang dampaknya terus bertambah dari generasi ke generasi. Yang menarik, para penerima bantuan tidak pernah diwajibkan membalas jasa. Mereka hanya diminta meneruskan nilai-nilai yang telah mereka terima.

Kini, banyak di antara anak-anak didiknya telah menjadi dokter, profesor, peneliti, hingga pemimpin rumah sakit. Mereka membawa semangat yang sama: melayani tanpa membedakan latar belakang pasien.


Dua Cara Menyikapi Kemiskinan

Setiap orang yang pernah hidup dalam kekurangan akan menghadapi sebuah pilihan.

Pilihan pertama adalah hidup dengan rasa takut kehilangan. Segala usaha diarahkan untuk menumpuk harta sebagai benteng keamanan.

Pilihan kedua adalah mengubah pengalaman pahit menjadi sumber empati. Kekayaan dipandang sebagai amanah yang harus diputar agar memberi manfaat bagi lebih banyak orang.

Prof. Kahar memilih jalan kedua.

Ia tetap menjadi pebisnis yang sukses, tetapi keuntungan yang diperoleh tidak berhenti pada dirinya sendiri. Kekayaan dijadikan alat untuk membuka kesempatan belajar, membangun layanan kesehatan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Warisan yang ia tinggalkan bukan hanya aset, melainkan nilai. Bukan hanya bangunan, tetapi juga karakter. Bukan hanya perusahaan, melainkan manusia-manusia yang kelak akan meneruskan semangat pengabdian.


Warisan yang Tidak Pernah Bisa Disita

Nama Prof. Kahar Tjandra dikenang bukan semata karena perusahaan yang ia dirikan atau keberhasilan bisnis yang ia raih. Namanya hidup dalam cerita para dokter yang pernah ia bantu. Namanya hadir dalam ruang-ruang kuliah ketika seorang mahasiswa berkata, “Saya bisa menjadi dokter karena beliau.”

Namanya terus disebut di rumah sakit ketika para sejawat mengenangnya sebagai guru yang mengajarkan integritas, kerendahan hati, dan pelayanan tanpa pamrih.

Warisan seperti ini tidak dapat dicatat dalam akta notaris. Ia tidak dapat diwariskan melalui surat wasiat. Warisan itu hidup melalui teladan.

Di tengah budaya yang sering mengukur kesuksesan dari kemewahan, popularitas, atau pencapaian materi, kisah “Dokter Becak” mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah seberapa banyak kehidupan yang berhasil kita sentuh.

Kemiskinan pernah melukai Prof. Kahar. Namun, luka itu tidak berubah menjadi dendam. Ia mengubahnya menjadi kompas moral yang membimbing setiap langkah hidupnya. Karena itulah, ia tidak pernah takut menjadi miskin.

Sebab, kekayaan terbesar yang ia miliki bukanlah harta, melainkan hati yang selalu kaya akan empati.


Menjadi “Dokter Becak” di Bidang Kita Masing-Masing

Indonesia tidak kekurangan orang-orang cerdas.

Yang masih sangat dibutuhkan adalah orang-orang cerdas yang berani menggunakan ilmunya untuk melayani, bukan sekadar mengejar keuntungan.

Prof. Kahar Tjandra telah memberikan teladan bahwa kerja keras, bisnis yang beretika, dan kepedulian terhadap sesama dapat berjalan beriringan. Kesuksesan tidak harus menjauhkan seseorang dari masyarakat kecil. Sebaliknya, kesuksesan seharusnya memperluas kemampuan kita untuk memberi manfaat.

Kita mungkin tidak semua menjadi dokter. Kita juga mungkin tidak membangun perusahaan farmasi atau laboratorium.

Namun, setiap orang dapat menjadi “Dokter Becak” di bidangnya masing-masing—hadir ketika dibutuhkan, bekerja dengan integritas, membuka peluang bagi orang lain, dan tidak takut berbagi.

Sebab, sebuah bangsa tidak akan benar-benar maju hanya karena memiliki banyak orang kaya. Bangsa ini akan naik kelas ketika semakin banyak orang yang memilih menggunakan keberhasilannya untuk mengangkat kehidupan sesamanya.

Itulah warisan paling berharga yang ditinggalkan Prof. Kahar Tjandra.

(Samsuridjal Djauzi)