Mereka Membersihkan Sampah Kita, Mengapa Hidupnya Masih Terabaikan? Saatnya Memanusiakan Pemulung
Setiap pagi, ketika sebagian besar masyarakat baru memulai aktivitas, ribuan pemulung sudah lebih dulu menyusuri jalan, tempat pembuangan sampah, hingga sudut-sudut kota. Mereka mengumpulkan botol plastik, kardus bekas, logam, dan berbagai barang yang dianggap tidak lagi bernilai. Ironisnya, orang-orang yang membantu menjaga lingkungan tetap bersih justru sering hidup dalam kondisi yang jauh dari kata layak.
Pemulung bukan sekadar pencari nafkah dari sampah. Mereka adalah bagian penting dari sistem pengelolaan sampah Indonesia yang selama ini bekerja tanpa banyak pengakuan. Sayangnya, jasa besar mereka belum diiringi dengan perlindungan maupun penghargaan yang setimpal.

Jutaan Orang Menggantungkan Hidup dari Sampah
Berdasarkan data Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) yang diperoleh dari Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), terdapat sekitar 4,2 juta pemulung di Indonesia. Sumber lain menyebut sekitar 3,7 juta orang di 25 provinsi menggantungkan hidup dari aktivitas mengumpulkan sampah plastik dan barang daur ulang.
Angka tersebut menunjukkan bahwa profesi pemulung bukanlah fenomena kecil. Mereka merupakan kelompok masyarakat yang jumlahnya sangat besar, tetapi keberadaannya sering luput dari perhatian. Kita melihat gerobak mereka melintas hampir setiap hari, tetapi jarang benar-benar memahami kehidupan yang mereka jalani.
Menjadi Pahlawan Lingkungan, tetapi Tetap Hidup dalam Kemiskinan
Di balik peran pentingnya, sebagian besar pemulung masih hidup dalam kondisi memprihatinkan. Yayasan SuRCI mencatat sekitar 64 persen pemulung hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak di antara mereka tidak memiliki rumah tetap. Sebagian harus tidur di emperan toko, kolong jembatan, bahkan di atas gerobak yang setiap hari mereka dorong.
Pendapatan mereka pun sangat terbatas. Pemulung jalanan rata-rata hanya memperoleh sekitar Rp50.000 per hari, sedangkan mereka yang tinggal di kampung pemulung bisa memperoleh sekitar Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari. Penelitian lain menunjukkan sebagian besar pemulung hanya membawa pulang Rp1.000 hingga Rp75.000 per hari, jumlah yang jelas belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi membiayai pendidikan anak dan kebutuhan kesehatan keluarga.
Yang membuat keadaan ini semakin ironis adalah besarnya kontribusi mereka terhadap lingkungan. Seorang pemulung rata-rata mengumpulkan sekitar 44 kilogram sampah setiap hari. Secara keseluruhan, sektor informal diperkirakan menyumbang 10–15 persen dari total daur ulang di perkotaan, bahkan lebih tinggi dibandingkan sebagian program pengelolaan sampah formal yang hanya sekitar lima persen.
Di saat Indonesia menargetkan pengurangan sampah hingga 30 persen dan pengurangan sampah plastik di laut sebesar 70 persen, peran pemulung menjadi sangat strategis. Tanpa mereka, beban tempat pembuangan akhir akan jauh lebih besar dan pencemaran lingkungan semakin sulit dikendalikan. Tidak berlebihan jika banyak pihak menyebut mereka sebagai pahlawan lingkungan.
Pekerjaan Penting dengan Risiko Sangat Tinggi
Di balik setiap karung sampah yang mereka angkut, tersimpan risiko yang jarang diketahui masyarakat. Profesi pemulung termasuk salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia, dengan tingkat kecelakaan kerja yang tinggi. Mereka setiap hari berhadapan dengan pecahan kaca, limbah medis, benda tajam, gas metana, serta berbagai sumber penyakit yang mengancam kesehatan.
Sayangnya, risiko besar tersebut tidak diimbangi dengan perlindungan yang memadai. Sekitar 42 persen pemulung belum memiliki jaminan kesehatan, sehingga ketika sakit atau mengalami kecelakaan kerja, mereka harus menanggung sendiri seluruh biaya pengobatan.
Masalah lainnya adalah administrasi kependudukan. Sekitar 50 persen pemulung belum memiliki KTP, sehingga sulit mengakses berbagai program bantuan pemerintah, termasuk kepesertaan BPJS melalui skema penerima bantuan iuran (PBI). Tanpa identitas resmi, mereka seolah tidak tercatat sebagai warga negara yang memiliki hak atas perlindungan sosial.
Selain itu, sekitar 21 persen pemulung masih mengalami keterbatasan akses terhadap teknologi dan internet. Akibatnya, mereka semakin tertinggal dalam memperoleh informasi, peluang usaha, maupun pelatihan yang dapat meningkatkan taraf hidup mereka.
Program Sudah Ada, tetapi Belum Menjangkau Semua
Pemerintah sebenarnya telah mulai memberi perhatian terhadap kelompok ini. BP Taskin, misalnya, merencanakan program pendidikan bagi anak-anak pemulung sekaligus membuka peluang pekerjaan yang lebih baik bagi orang tua mereka. Di sisi lain, The Circulate Initiative menargetkan peningkatan kesejahteraan puluhan ribu pekerja sektor informal hingga tahun 2026.
Namun jika dibandingkan dengan jumlah pemulung yang mencapai jutaan orang, berbagai program tersebut masih belum cukup luas cakupannya. Banyak keluarga pemulung yang hingga kini belum tersentuh pendampingan maupun bantuan yang mereka butuhkan.
Memanusiakan Pemulung Dimulai dari Hal-hal yang Nyata
Memanusiakan pemulung tidak cukup hanya dengan rasa iba atau kegiatan berbagi sesaat. Yang mereka perlukan adalah kebijakan yang mampu mengubah kehidupan mereka secara berkelanjutan.
Penyediaan pakaian kerja, sepatu, sarung tangan, dan gerobak yang layak akan membantu mengurangi risiko kecelakaan sekaligus meningkatkan produktivitas. Rantai distribusi hasil daur ulang juga perlu diperbaiki agar pemulung dapat menjual barang secara langsung kepada pengepul besar atau industri sehingga memperoleh harga yang lebih adil.
Program makan bergizi atau subsidi pangan menjadi penting karena sebagian besar pemulung hidup di bawah garis kemiskinan. Di sisi lain, percepatan pembuatan KTP dan kepesertaan BPJS harus menjadi prioritas agar mereka memperoleh hak dasar sebagai warga negara.
Pelatihan keterampilan, literasi digital, hingga akses terhadap teknologi juga dapat membuka peluang pekerjaan yang lebih baik. Sebagian besar pemulung masih berada pada usia produktif sehingga mereka memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup apabila diberikan akses dan pendampingan yang tepat.
Relawan Bisa Menjadi Jembatan Perubahan
Perubahan tidak hanya bergantung pada pemerintah. Mahasiswa, pelajar, komunitas, hingga organisasi sosial memiliki ruang besar untuk ikut berkontribusi.
Relawan dapat membantu pemulung mengurus dokumen kependudukan, mengenalkan penggunaan teknologi digital, memberikan pelatihan sederhana, menghubungkan mereka dengan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga memberikan pendampingan ketika menghadapi persoalan hukum atau tindakan pemerasan.
Bahkan berbagai komunitas lingkungan telah mengusulkan agar pemulung diposisikan sebagai mitra resmi bagi perusahaan maupun startup pengelola sampah. Dengan demikian, mereka tidak lagi dipandang sebagai pekerja informal yang terpinggirkan, melainkan bagian penting dari rantai ekonomi sirkular.
Keberhasilan Bukan Sekadar Memberi Bantuan
Keberhasilan program pemberdayaan pemulung tidak dapat diukur hanya dari banyaknya bantuan yang disalurkan. Ukuran sebenarnya adalah ketika mereka mampu keluar dari lingkaran kemiskinan.
Keberhasilan itu terlihat ketika seorang pemulung mampu menjadi mentor bagi sesamanya, ketika anak-anak mereka dapat menyelesaikan pendidikan, ketika pendapatan keluarga telah melampaui upah minimum, dan ketika mereka menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah formal yang memberikan perlindungan kerja.
Saat jutaan pemulung memperoleh kesempatan hidup yang lebih layak, Indonesia tidak hanya berhasil mengurangi kemiskinan, tetapi juga membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih adil dan berkelanjutan.
Sudah Saatnya Mengembalikan Martabat Mereka
Pemulung bukanlah beban bagi negara. Mereka justru menjadi bagian dari solusi atas persoalan sampah yang setiap hari kita hasilkan. Tanpa mereka, jutaan kilogram sampah yang masih memiliki nilai ekonomi kemungkinan besar akan berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari lingkungan.
Karena itu, memanusiakan pemulung berarti mengakui bahwa pekerjaan mereka memiliki nilai. Memberikan perlindungan, akses kesehatan, pendidikan, identitas hukum, dan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan pemenuhan hak sebagai sesama warga negara.
Mereka selama ini membantu membersihkan jejak konsumsi kita. Kini, sudah saatnya negara, dunia usaha, dan masyarakat bersama-sama membantu mengangkat martabat mereka. Sebab keberhasilan sebuah bangsa bukan hanya diukur dari tingginya gedung yang dibangun, tetapi juga dari bagaimana bangsa itu memperlakukan mereka yang paling sering dilupakan.
(Samsuridjla Djauzi)
