Warga desa juga memerlukan layanan transportasi umum untuk mobilitas warga dan barang, seperti berangkat sekolah, ke pasar, kantor desa, ke kecamatan, dan ke ladang. Namun, sistem transportasi umum di desa masih jauh ketinggalan dibandingkan dengan kota.
Saat ini, warga desa umumnya menggunakan motor atau jalan kaki untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Penggunaan motor di desa sudah amat umum, bahkan berlebihan. Tidak hanya orang dewasa, banyak anak-anak dan lansia yang menggunakan motor. Sebagian pengendara bahkan tidak memiliki SIM, sehingga rawan kecelakaan.
Sistem transportasi umum di desa hendaknya juga dapat dipadukan dengan transportasi kota. Bagaimana hasil panen desa dapat dibawa ke kota dengan biaya yang tak mahal? Diperlukan terminal dan tempat tunggu kendaraan umum di desa yang dapat diakses dengan mudah.

Jadwal angkutan umum perlu diinfokan kepada warga desa, sehingga mereka dapat mengatur waktu dengan baik. Saat ini, warga desa ada yang menunggu angkutan umum lebih sejam karena jadwal yang tak teratur.
Jenis angkutan yang dapat digunakan hampir sama dengan kota, tapi menyesuaikan dengan medan desa. Acali desa ada di bukit, sehingga perlu angkutan yang mampu mendaki.
Dinas Perhubungan merupakan dinas yang sibuk, tapi sudah waktunya dinas perhubungan kecamatan juga diaktifkan. Para akademisi, penggiat transportasi, dan masyarakat juga perlu peduli pada transportasi desa.
Pembangunan kita mencakup kota dan desa, termasuk membangun transportasi desa. Sistem transportasi umum desa yang mudah diakses, biaya terjangkau, dan aman adalah sebuah kebutuhan yang mendesak.
Dengan demikian, warga desa dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah dan nyaman. Mereka dapat berangkat sekolah, ke pasar, kantor desa, ke kecamatan, dan ke ladang dengan lebih aman dan efisien.
Mari kita bersama-sama membangun sistem transportasi umum desa yang lebih baik, sehingga warga desa dapat menikmati mobilitas yang lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
(Samsuridjal Djauzi)
