Lagu Veronica membuktikan satu hal: kreativitas daerah bisa mengguncang panggung nasional bahkan global tanpa modal besar dan tanpa izin pusat. Sebelumnya, musik dari NTT sudah berkali-kali menembus arus utama. Ini bukan kebetulan, tapi tanda bahwa gelombang seni tumbuh subur dari bawah ketika masyarakat sendiri yang menjadi penopang utamanya.

Pertanyaannya sekarang: apakah pemerintah akan membiarkan gelombang ini lewat begitu saja seperti banyak gerakan budaya daerah sebelumnya? Jika dibiarkan, NTT wave akan habis sebagai tren musiman. Lagu viral, lalu tenggelam karena seniman tidak punya akses ke distribusi, perlindungan hak cipta, dan panggung berkelanjutan. Kita sudah terlalu sering melihat potensi besar mati karena tidak dirawat.
Pemerintah punya peran yang tidak bisa digantikan pasar: memperbesar, menumbuhkan, dan menyebarkan. Memperbesar berarti menyediakan infrastruktur—studio rekaman daerah, ruang pertunjukan, dan pelatihan manajemen seni. Menumbuhkan berarti memberi dana hibah yang tidak birokratis untuk produksi, tur, dan kolaborasi lintas daerah. Menyebarkan berarti memakai diplomasi budaya: memasukkan lagu-lagu daerah ke platform resmi Kementerian, festival internasional, dan kurikulum pendidikan seni.
Ini bukan soal subsidi cuma-cuma. Seni daerah adalah aset ekonomi dan diplomasi lunak. K-pop bisa mendunia karena ada ekosistem negara yang menopang—dari Busan ke Billboard. NTT wave, Minang wave, Papua wave, semua punya modal budaya yang tidak dimiliki negara lain. Jika dibiarkan liar, hasilnya hanya viral sesaat. Jika dirawat, hasilnya adalah industri kreatif yang menyerap tenaga kerja dan mengangkat citra bangsa.
Argumen “biarkan pasar yang bekerja” gugur ketika pasar sendiri terpusat di Jakarta dan dikuasai algoritma global. Tanpa intervensi ringan dan cerdas, daerah akan selalu tertinggal.
Karena itu, dukung seniman kita bukan dengan retorika, tapi dengan kebijakan. Biarkan setiap daerah menjadi sumber gelombang baru. Indonesia tidak akan dikenal dunia hanya karena Jakarta. Ia akan dikenal karena ribuan suara daerah yang akhirnya diberi ruang untuk menggema bersama.
Oleh : Samsuridjal Djauzi
