You are currently viewing OKE OCE Lanjutan

OKE OCE Lanjutan

Program OK OCE yang digagas oleh Sandiaga Uno telah berhasil melatih lebih 40 ribu peserta. Sebagian telah menjadi pengusaha UMKM bahkan sudah banyak juga yang berhasil. Namun sebagian masih mendapat kesulitan. Bagi pengusaha UMKM pemula tidaklah mudah berjuang sendiri meski dibimbing untuk memproduksi barang dagangan, mendistribusikan dan menjualnya. Selain tantangan modal, juga ada tantangan kurangnya relasi serta keterampilan terutama keterampilan negosiasi dan pemasaran.

Untuk pengusaha pemula akan lebih aman masuk dulu dalam ekosistem bisnis yang sudah berjalan. Mulai dengan yang paling sesuai dan secara bertahap dapat memperluas bisnisnya. Jika kita membayangkan bahwa di sebuah kelurahan akan ada bisnis cemilan yang berkesinambungan maka hendaknya ada ekosistem bisnis yang mendukung. Ibu-ibu yang akan ikut dapat ikut dalam mata rantai bisnis tersebut, baik sebagai dapur pembuat makanan, pendistribusi bahkan penjual. Kita juga dapat mengerakkan para remaja untuk menjadi pengelola bisnis serta negosiator dan pemasaran hasil produk kuliner tersebut.

Bandeng Presto

Sebagai contoh, ada sebuah kelurahan di Indonesia, yang memilih untuk memproduksi bandeng prestro karena di daerahnya banyak ikan bandeng. Jika seorang pengusaha baru akan menggeluti bisnis bandengn presto tentunya ada sejumlah langkah yang harus dijalani bahkan juga modal pertama yang harus disiapkan. Memang sih program OK OCE juga menghubungkan para pebisnis pemula ke akses modal, tapi para pengusaha pebisnis pemula ini masih ragu apakah akan mampu membayar pinjaman yang didapatnya.

Jika di kampung tersebut telah ada ekosistem bisnis bandeng presto mulai dari bahan baku, dapur produksi, pengelolaan distribusi, dan penjualan maka pengusaha pemula dapat ikut pada rantai yang sesuai. Katakanlah dia mau mulai sebagai dapur penghasil dan untuk itu dia mendapat upah untuk membuat bandeng presto sebesar seribu rupiah perekor. Maka dia dapat memusatkan kegiatannya untuk memproduksi dengan bahan baku, peralatan, dan bumbu yang disediakan.

Berarti dia hanya mengambil upah? Ya sementara dapat mulai disitu dulu sampai dia merasa yakin dan punya penghasilan yang tetap, meski penghasilannya terbatas. Dia dapat tetap berusaha di bidang produksi dengan kapasitas yang lebih besar namun juga dapat mulai ikut memasarkan. Jika ikut memasarkan maka dia punya potensi untuk mendapat penghasilan lagi.

Bagaimana suatu ekosistem dibentuk tentu atas kesepakatan para pebisnis di sana. Pada prinsipnya ada yang menyediakan bahan baku bersama, produksi di rumah-rumah penduduk, pengumpul (remaja) untuk didistribusikan dan dipasarkan. Ada tim yang bernegosiasi dengan toko-toko penjual atau menciptakan penjualan langsung baik offline maupun online. Melalui ekosistem bersama proses produksi akan lebih lancar dan mudah dan juga akan lebih murah.

Jika untuk setiap kelurahan ini dibutuhkan modal 100 juta tentu harus ada lembaga pembiayaan yang mendukung. Mungkin BUMDES atau lembaga pembiayaan atau lembaga sosial lain. Bisnis bandeng presto ini katakanlah dapat menyerap 10 tenaga ibu rumah tangga, 3 orang remaja desa yang bertugas sebagai pengelola. Bertanggung jawab terhadap akses modal, penyediaan bahan baku, pelatihan dan proses produksi, serta pemasaran. Pembagian keuntungan dapat dibagi secara proporsional.

Melalui kegiatan ini maka sekitar 10 rumah tangga dan 3 remaja akan mendapat manfaat dan juga kesempatan untuk berkembang.

Mampukah Pelita Desa mengerjakannya? Mulai dulu di 5 keluarahan, tentu saja tak harus produk bandeng presto, produk lain yang dibutuhkan masyarakat juga dapat diusahakan dengan pendekatan ini.

Oleh : Samsuridjal Djauzi